
Akhir-akhir ini angin kencang yang disebut sebagai angin puting beliung sering melanda. Banyak sudah dampak yang dirasakan oleh masyarakat dan kerugian yang begitu nyata dan besar dialami. apa sebenarnya penyebab terjadinya angin tersebut dan di mana saja bisa terjadinya, serta kapan terjadinya akan kita bahas berikut ini. Puting beliung merupakan angin kencang yang datang secara tiba-tiba, mempunyai pusat, bergerak melingkar menyerupai spiral hingga menyentuh permukaan bumi dan akan punah dalam waktu singkat (3-5 menit). Dampak yang ditimbulkan akibat angin puting beliung dapat menghancurkan area seluas 5 km dan tidak ada lagi angin puting beliung susulan. Rumah akan hancur dan tanaman akan tumbang diterjang angin puting beliung, mahluk hidup bisa sampai mati karena terlempar atau terbentur benda keras lainnya yang ikut masuk pusaran angin.
ANGIN puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 63 km/jam yang bergerak secara garis lurus dengan lama kejadian maksimum 5 menit. Orang awam menyebut angin puting beliung adalah angin Leysus. Di daerah Sumatera disebut Angin Bohorok dan masih ada sebutan lainnya. Angin jenis ini yang ada di Amerika yaitu Tornado mempunyai kecepatan sampai 320 km/jam dan berdiameter 500 meter. Angin puting beliung sering terjadi pada siang hari atau sore hari pada musim pancaroba. Angin ini dapat menghancurkan apa saja yang diterjangnya, karena dengan pusarannya benda yang terlewati terangkat dan terlempar.
Puting Beliung Terjadi Karena Adanya Awan Konveksi

Puting beliung yang menerjang rumah-rumah penduduk di sejumlah tempat dalam beberapa pekan terakhir ini, terjadi karena adanya awan konveksi atau cumolunimbus.
Awan cumolunimbus ini, merupakan kumpulan awan putih yang berdiameter antara 15-30 km dengan kecepatan pergerakan di atas 100 km/jam.
Pergerakan awan putih berkecepatan di atas 100 km/jam ini, lebih dekat dengan permukaan bumi sehingga menimbulkan pusaran angin yang kemudian dikenal dengan angin puting beliung.
Menurut Kusbagio, puting beliung ini biasanya terjadi pada saat pergantian musim, baik dari musim kemarau ke musim hujan maupun sebaliknya. Namun, tidak tertutup kemungkinan terjadi pada musim penghujan di daerah konvergensi atau pusat kumpulan awan yang menimbulkan hujan lebat dan angin kencang.
Sifat hujan yang disertai dengan angin kencang itu tidak berlangsung lama karena sangat ditentukan oleh wilayah kumpulan awan tebal.
Wilayah konvergensi tersebut biasanya memicu terjadinya awan cumolunimbus yang berdiameter antara 15-30 km dengan kecepatan pergerakan di atas 100 km/jam di atas permukaan bumi. (*/cax)
Angin puting beliung / tornado terjadi karena adanya persimpangan / tubrukan angin yang arahnya agak bergeser, ditambah dengan adanya perbedaan suhu dan/tekanan yg besar di atmosfir sebelah atas (meluas) dan di bawah (terpusat di areal sempit, dekat permukaan bumi).
Adanya perbedaan suhu yang terpusat menyebabkan angin bergerak naik / turun di satu titik. Persimpangan / tubrukan angin sebagai starter dan supply energi. Sedangkan pusat perbedaan suhu sebagai pengumpul / magnifier energi.
Hal ini mirip dengan terjadinya pusaran air pada wadah yang berlubang di tengah. Dengan sedikit saja pemicu putaran ke salah satu arah, maka semakin lama putaran air semakin cepat.
Puting beliung di Indonesia biasa disebut 'angin puyuh' atau 'leysus' (Jawa), sedangkan 'tornado' di amerika dan 'twister' di Eropa. Angin puting beliung mempunyai kecepatan rata-rata berkisar 30-40 knots dan berasal dari awan cumulonimbus (Cb) yaitu awan yang bergumpal, berwarna abu-abu gelap dan menjulang tinggi. Tidak semua awan cumulonimbus (Cb) menimbulkan angin puting beliung. Proses pembentukan awan Cb dimulai dengan gerakan massa udara di permukaan bumi.
Gb. awan Cumulonimbus (Cb)
Tanda-tanda terjadinya angin puting beliung

Ciri-ciri indikasi terjadinya
Proses terjadinya angin puting beliung, biasanya terjadi pada musim pancaroba pada siang hari suhu udara panas, pengap, dan awan hitam mengumpul, akibat radiasi matahari di siang hari tumbuh awan secara vertikal, selanjutnya di dalam awan tersebut terjadi pergolakan arus udara naik dan turun dengan kecepatan yang cukup tinggi. Arus udara yang turun dengan kecepatan yang tinggi menghembus ke permukaan bumi secara tiba-tiba dan berjalan secara acak.
Tentunya angin puting beliung yang kita bicarakan mempunyai tanda-tanda akan terjadi serta tempat, waktu dan luasan.
- angin puting beliung dapat terjadi di mana saja, di laut, di darat, namun lebih sering terjadi di darat.
- Bila terjadi di lautan, waktunya lebih lama dibandingkan bila terjadi di daratan.
- Lebih sering terjadi pada peralihan musim/panca roba.
- Lebih sering terjadi pada siang atau sore hari dan terkadang pada malam hari.
- Luasannya berkisar antara 5-10 Km2.
- Sifatnya sangat local
Ciri-ciri datangya angin puting beliung adalah pada waktu siang hari terlihat adanya awan putih menjulang tinggi seperti bunga kol, kemudian berkembang menjadi awan gelap yang disertai hembusan udara dingin, dan angin mulai menggoyangkan pepohonan ke kiri dan ke kanan. Tidak lama kemudian angin semakin cepat dan diikuti hujan lebat dan terkadang disertai hujan es. Terlihat di awan hitam pusaran angin berbentuk seperti kerucut turun menuju tanah (bumi).
Proses terjadinya puting beliung yang sangat singkat dan skala lokal, maka sulit diprediksi kapan dan dimana akan terjadinya. Namun demikian perlu diketahui fenomena cuaca yang mengindikasikan akan terjadinya puting beliung antara lain :
- Satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas atau gerah.
- Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan cumulus (awan berlapis-lapis) di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.
- Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu/hitam.
- Pepohonan di sekitar tempat kita berdiri ada dahan atau ranting yang bergoyang cepat.
- Terasa sentuhan udara dingin di sekitar tempat kita berdiri.
-Terjadi terutama di daerah yang kurang vegetasi dan kota yang banyak gedung-gedung penyebab panas di daratan.
-lebih sering terjadi pada peralihan musim kemarau ke musim hujan
-lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, tapi terkadang pada malam hari
-Satu dua hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas/pengap/sumu’
-Pada hari berikutnya tumbuh awan cumulus (awan berlapis-lapis), diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.
-Awan itu ketebalannya bisa mencapai 9 kilometer, dan puncak awan bisa berupa es.
-Sesaat sebelum kejadian puting beliung, biasanya berembus angin sepoi yang berasa dingin disekitar tempat kita berdiri.
-Tahap berikutnya adalah awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi hitam gelap
-perhatikan pepohonan disekitar tempat kita berdiri, apakah ada dahan atau ranting yang sudah bergoyang cepat, jika ada maka hujan dan angin kencang sudah akan dating
-biasanya hujan pertama kali turun adalah hujan tiba-tiba dengan deras, apabila hujan nya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari lingkungan kita berdiri
-Terdengar sambaran petir yang cukup keras, apabila indikator tersebut dirasakan oleh kita maka ada kemungkinan hujan lebat+petir dan angin kencang akan terjadi
-Jika 1 atau 3 hari berturut –turut tidak ada hujan pada musim penghujan, maka ada kemungkinan hujan deras yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun tidak.
Antisipasi
-Cepat berlindung atau menjauh dari lokasi kejadian, bila mengetahui adanya indikasi akan terjadi angin puting beliung
-Kenali bulan-bulan pancaroba di tempat anda.
-Mengadakan penghijauan karena dengan adanya penghijauan udara tidak terlalau panas sehingga tidak terjadi perbedaan panas yang dapat menimbulkan adanya angin puting beliung.
-Apabila terjadi angin puting beliung menghindar dari pepohonan tinggi yang sudah rapuh karena bisa tertimpa pohon, cari tempat yang aman dan kuat atau menghindar jauh.
-Membuat rumah yang permanen dan kuat.
-Membuat tempat perlindungan di bawah tanah apabila tempat tinggal sering terjadi angin puting beliung.
-Jangan berteduh, berhenti, atau melewati pohon tinggi dan rimbun atau papan reklame, atau rumah yang rapuh saat terlihat ada awan CB dan turun hujan.
-Ketika sedang mengendarai kendaraan, usahakan berhenti sejenak sambil menunggu angin reda dan hujan turun. Karena pada saat itulah potensi angin puting beliung muncul.
-Pohon yang rimbun dan tinggi serta rapuh perlu segera dipotong dahan-dahannya untuk mengurangi beban berat pada pohon tersebut.
- atap rumah yang sudah rapuh diganti atau diperkuat.
Sumber:
* Rudy Teguh Imananta
Pusat Gempa Nasional - Pusat Sistem Data dan Informasi Geofisika
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG)
Jl. Angkasa I No 2, Kemayoran Jakarta Pusat
* website pelajaran dari NASA tentang badai tropis.
*Sumber : BMG Juanda
*www.surya.co.id | redaksi[@]surya.co.id
*(www.e-dukasi.net/gia)
*gustaf_parlindungan@yahoo.com*KapanLagi.com
*(Penulis adalah Kepala Bidang Data dan Informasi BBMG Wil-I)
*Labels: Ilmu kebumian
Irmante Astalavista